Jurnal 3

MENJADI TURIS DI KOTA ABADI

Acep Zamzam Noor


KETIKA pesawat Alitalia yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Leonardo da Vinci, Roma, pada suatu pagi yang sangat dingin, tiba-tiba saya teringat pada sebuah esei Y.B. Mangunwijaya yang pernah melukiskan kota ini sebagai kawah penuh sejarah yang diseraki kolom-kolom pualam raksasa, reruntuhan dinding-dinding kuil megah serta pelataran-pelataran yang sebagian masih bertegel marmer. Tapi kawah penuh sejarah yang terngiang-ngiang dalam ingatan itu tak segera saya jumpai begitu keluar dari ruangan bandara. Yang terlihat malah bangunan-bangunan beton modern biasa. Ternyata bandara yang mengabadikan nama seorang pelukis terkenal ini letaknya jauh di luar kota Roma. Masih diperlukan beberapa kali naik bus kota dan kemudian disambung kereta bawah tanah untuk mencapai pusat kota, jika kita mengambil jalur lambat tapi murah. Tentu saja jalur ekonomis ini yang saya pilih meskipun sejumlah sopir taksi menawarkan untuk mengantar ke mana saya pergi.

Namun perjalanan melingkar ini memberikan impresi lain dari bayangan saya semula tentang Kota Abadi. Setelah melewati bangunan-bangunan modern di sekitar bandara, bus yang saya tumpangi kemudian melewati tanah-tanah kosong serta kebun-kebun yang luas. Baru setelah itu ketemu dengan bangunan-bangunan yang mungkin tidak terlalu tua namun masih bergaya antik. Semakin masuk ke dalam kota rasanya warna-warna bangunan semakin kusam atau kehitaman dan mulai banyak ditemui tiang-tiang lengkung dengan ornamen yang khas, yang mungkin sekali waktu pernah saya lihat pada buku-buku sejarah atau kartu pos.

Roma mempunyai banyak julukan. Selain sering disebut sebagai Kota Abadi, banyak juga orang yang menjulukinya Permata Dunia. Banyak alasan memang yang menyebabkan Roma mendapat julukan yang sepertinya berlebihan itu. Bagaimanapun ibukota Italia ini memang banyak menyimpan sisa-sisa kemegahan masa lalu yang sangat menakjubkan. Tengoklah Colosseo atau yang lebih dikenal masyarakat dunia sebagai Colosseum, sebuah bangunan amphitheatre raksasa yang masih berdiri dengan megah meskipun hanya berwujud puing-puing belaka. Bangunan yang didirikan zaman Vespasian sekitar dua ribu tahun yang lalu ini merupakan daya tarik kota Roma yang paling membius di samping peninggalan-peninggalan anggun lainnya. Colosseo telah menjadi saksi dan mewarnai perjalanan jatuh-bangun kota Roma hingga bangunan kuno itu kemudian menjadi lambang kota – seperti halnya menara Eiffel bagi Paris.

Di masa ribuan tahun yang lalu bangunan yang mirip stadion sepakbola ini mampu menampung 50.000 penonton untuk menyaksikan pertunjukan sadis, yakni adu manusia dengan binatang buas – yang konon sudah dibuat lapar terlebih dahulu agar berlipat kebuasannya – di hadapan kaisar, para senator dan pejabat elit serta tepuk puluhan ribu penonton. Berabad-abad pertunjukan sadis berlangsung dan menjadi tradisi yang dibutuhkan penduduk Roma. Beberapa penguasa, misalnya Kaisar Constantin dan sejumlah penerusnya, pernah berusaha menghentikan pertunjukan berdarah ini, tapi selalu ditolak masyarakat Roma yang masih mencintai tradisi lama. Baru setelah permulaan abad kelima, pertunjukan sadis di Colosseo ini bisa dihentikan. Itu pun setelah seorang pendeta memprotes tradisi tidak manusiawi ini dengan terjun ke arena bersama para gladiator. Pendeta yang bernama Telemachus itu tewas seketika itu juga.

Kini sebagian dinding Colosseo yang berlapis-lapis rubuh dimakan waktu. Yang masih tersisa hanyalah lapisan dalamnya yang ditopang tiang-tiang lengkung. Seluruh permukaan lantai tempat pertunjukan berlangsung kini sudah terkuak dan yang terlihat hanyalah ruang-ruang berceruk mirip labirin di dalamnya. Konon di sanalah tempat para gladiator dan binatang buas itu disekap. Jika bangunan raksasa ini diperkecil mungkin mirip karya keramik yang artistik, justru karena ketidakutuhannya dan warnanya yang kusam kehitaman. Selain itu, di sekitar Colosseo berserakan peninggalan-peninggalan lainnya berupa sisa-sisa dinding, tiang-tiang marmer raksasa, yang sebagian masih tegak dengan utuh seperti Arco di Costantio yang bentuknya mirip pintu gerbang. Saya membayangkan jika dilihat dari udara, benda-benda di sekitar Colosseo ini pasti menjadi sebuah kesatuan yang artistik.

***

Kedatangan saya di Roma, kota sepakbola dan pusat agama Katolik, bertepatan dengan libur Natal 1991 dan menjelang tahun baru 1992, sehingga saya sempat tertahan selama beberapa hari di ibukota Italia ini sebelum melanjutkan perjalanan ke kota tujuan saya. Sambil menunggu kantor-kantor buka dan urusan beres, saya berlagak menjadi turis sambil mengelilingi tempat-tempat bersejarah yang menjadi tujuan utama para wisatawan. Dengan berbekal sebuah peta dan buku panduan tentang tempat-tempat bersejarah, mengelilingi kota Roma ternyata tak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Dari Termini yang merupakan jantung kota Roma tersedia berbagai kendaraan – baik bus kota maupun kereta bawah tanah – ke semua lokasi-lokasi tujuan wisata. Bahkan dari lokasi ke lokasi itu sangat berdekatan dan dapat ditempuh dengan jalan kaki.

Tak jauh dari Colosseo terdapat sebuah kawasan berbukit-bukit yang di dalamnya berserakan tiang-tiang besar dan batu-batu marmer yang sebagian masih mengkilap. Beberapa rangkaian tiang yang berbentuk monolith masih tegak berdiri menopang sisa-sisa kebesaran masa lalu, sedangkan tiang-tiang lainnya tampak bergeletakan di tanah yang berumput hijau. Itulah Foro Romano atau Romain Forum, pusat pemerintahan dan peradaban kekaisaran Romawi yang pernah sekian abad berada di puncak kejayaan dan merupakan kiblat kebudayaan dunia.

Di sinilah sekitar dua ribu tahun lalu berdiri kuil-kuil megah dan indah dari Julius Caesar, Vespanian, Saturnus, Agustus dan Romulus. Konon di sinilah para kaisar, senator, pendeta, filsuf, kaum cerdik pandai dan seniman berkumpul dan berembuk merumuskan peradaban, yang kemudian sangat mempengaruhi dunia hingga kini. Setumpuk literatur Latin yang sangat berpengaruh terhadap peradaban dunia baik dalam agama, kebudayaan maupun politik berawal dari sini. Tapi kekaisaran Romawi juga mengalami beberapa kali jatuh-bangun dan bahkan sempat dilalap api pada zaman Kaisar Nero. Puing-puing sejarah yang tampak masih anggun ini kini harus berhadapan dengan hiruk pikuk kehidupan modern. Baik Colosseo maupun Foro Romano letaknya dikelilingi jalan raya yang sangat ramai, bahkan nyaris tanpa lahan penyekat. Sisa kebudayaan masa lalu harus berhadapan dengan keriuhan masa kini. Tapi itulah yang menarik dari kota yang berpenduduk sekitar dua setengah juta orang ini, semacam kekontrasan yang akhirnya bisa harmonis. Kebudayaan modern berbaur dengan peninggalan kuno tanpa kerikuhan, seperti halnya kehidupan religius yang bersanding dengan kehidupan sekuler yang bebas.

Roma yang konon dulunya dibangun di atas tujuh bukit. Kini secara fisik hampir seluruh bangunannya, baik yang lama dan mungkin yang baru namun tetap bergaya klasik mengesankan suasana khusyuk dan religius, namun di dalamnya bergolak kehidupan yang modern. Bagian luar dari bangunan-bangunan lama itu tetap dipertahankan dengan kelapukan dindingnya dan kesuraman warna catnya, sedangkan di dalamnya digelar interior dengan perlengkapan paling mutakhir. Tapi bagi saya yang datang dari pedalaman Tasikmalaya, kekontrasan itu sudah cukup dari pemandangan yang sangat umum di sini: anak-anak muda berciuman dengan bebas di tangga gereja.

Di pusat kota Roma hampir sulit mencari bangunan dengan arsitektur modern yang mencakar langit. Bahkan bangunan-bangunan baru pun tampaknya diatur untuk tidak memakan bangunan-bangunan lama. Yang unik adalah jalan-jalannya sebagian besar masih bertahan dengan jalan-jalan batu dan umumnya sempit-sempit. Di sini bangunan-bangunan lama tak mau mengalah demi pelebaran jalan. Yang mengalah justru mobil-mobilnya yang didesain sekecil mungkin. Hampir seluruh jalan-jalan batu di sini bermuara pada sebuah piazza (alun-alun) dan setiap piazza biasanya dilengkapi dengan fontana (air mancur) dari batu pualam.

Banyak piazza bersejarah dan terkenal yang tak pernah dilewatkan para turis yang melancong ke Roma, seperti Piazza Novana yang dihiasi fontana terkenal karya Bernini, Piazza Collona, Piazza del Popolo, Piazza Spagana dan lain-lain. Tapi yang paling menggetarkan saya adalah Piazza San Pietro, Vatican, alun-alun terbesar di kota Roma ini membentang dengan bentuk oval. Dua fontana yang sampai kini masih berfungsi, juga karya Bernini, mengapit sebuah tugu di tengah-tengah lapangan yang luas. Sedangkan pilar-pilar marmer raksasa yang berbentuk monolit berjejer lapis dua mengurung setengah komplek basilica ini. Pilar-pilar yang didesain oleh Bernini ini berbaris dengan anggun mengawal bangunan utama di kompleks ini, yakni gereja San Pietro – gereja terbesar dan termegah di dunia.

Itulah Citta del Vaticano atau yang dikenal dunia sebagai Vatican City, sebuah negara mini di dalam kota Roma dan merupakan kiblat umat Katolik seluruh dunia di bawah kepemimpinan Paus, yang sejak tahun 1377 tak pernah terputus. Sejak tahun 1929, Vatican menjadi negara independen yang lepas dari Italia. Negara mini ini punya milisi khusus yang dikenal para turis sebagai Swissguard, yang mampu berdiri di pintu gerbang tanpa bergerak, berkedip apalagi tersenyum selama berjam-jam – hingga selintas mirip patung-patung yang sedang berjaga. Tegak, dingin dan kaku.

***

Saya memasuki gereja terbesar dan termegah di dunia ini setelah menyelinap ke dalam rombongan turis Jepang yang diantar seorang pemandu. Ada getaran yang hebat yang mungkin hanya bisa dibandingkan dengan ketika saya memasuki Masjidil Haram di Mekkah beberapa tahun yang lalu, meskipun dalam dimensi yang sangat berbeda. Di sini saya tergetar oleh karya agung manusia yang begitu indah, yang lahir dari semangat keimanan dalam mengagungkan Tuhan lewat karya seni. Sangat sulit melukiskan keindahan interior gereja ini karena setiap inci dari bangunan ini penuh dengan pesona karya yang tak mudah dibayangkan bagaimana cara pembuatannya dan berapa lama dibutuhkan waktu untuknya.

Gereja San Pietro, memang tak setua peninggalan-peninggalan lain seperti Colosseo, Foro Romano atau Pantheon. Gereja ini masih sangat jauh lebih muda. Pertama didirikan sejak abad keempat, tapi konon bangunan yang ada sekarang adalah hasil renovasi pada abad 16. Jadi karya-karya yang terdapat dalam gereja ini masih utuh. Pieta, sebuah patung karya Michael Angelo yang menggambarkan Maria sedang memangku Yesus yang terkulai ditempatkan tak jauh dari pintu masuk. Setelah itu kita akan menahan nafas melewati karya-karya lain berupa mosaik, patung, lukisan, ukiran dan sebagainya. Belum lagi kubah-kubah yang setiap lengkungnya diisi dengan lukisan-lukisan indah karya Michael Angelo yang sulit dibayangkan pengerjaannya. Capella Sistina adalah salah satu di antaranya. Menikmati lukisan-lukisan dinding ini tentu saja harus sambil tengadah menahan rasa pegal di leher. Para pengunjung memang diizinkan untuk mengelilingi setiap lekuk dari gereja yang menakjubkan ini, meski dengan sejumlah ketentuan-ketentuan seperti tidak boleh ribut, tidak boleh memotret di tempat-tempat tertentu dan juga tidak boleh membawa ransel atau barang-barang lainnya.

Lokasi lain yang cukup terkenal di kalangan para turis adalah Fontana di Trevi, sebuah air mancur monumental karya murid-murid Bernini. Sebenarnya air mancur ini tak terlalu menarik, di samping terkesan agak modern juga lokasinya berada di antara jalan-jalan sempit dan termakan oleh bangunan-bangunan di sekitarnya. Tapi yang unik dari air mancur satu ini adalah kepercayaan bahwa setiap pengunjung yang melemparkan uang logam ke dalam kolamnya, suatu saat akan kembali lagi ke Roma. Maka banyak sekali turis yang melemparkan uang dengan cara membelakangi air mancur. Dan tentu saja saya pun ikut-ikutan membuang uang logam ratusan lire sambil berdoa dalam hati mudah-mudahan bisa mendapat banyak puisi.

Atas saran seorang teman di tanah air, saya memilih menginap di sekitar Termini yang sangat ramai. Selain sejumlah hotel berbintang, di sini pun banyak terdapat pensione (semacam losmen) yang berada di apartemen-apartemen tua. Jadi sebuah apartemen bisa diisi oleh beberapa pensione di setiap lantainya. Ketika pertama kali masuk agak mengerikan juga, sebab harus melewati tangga-tangga yang suasananya mengingatkan saya pada film-film drakula. Tapi setelah memasuki ruang dalamnya, rasanya biasa saja seperti losmen-losmen pada umumnya. Hanya yang agak menyulitkan, pemilik pensione di sini – yang kebanyakan sudah tua – tak mau mengalah untuk berbahasa lain kecuali bahasa Italia. Jadi harus sedikit pakai improvisasi.

Bagian bawah dari bangunan-bangunan tua di sekitar Stazione Termini semuanya diisi oleh butik-butik pakaian bermerk, bar dan pizzeria ( toko penjual pizza). Saya yang tak punya pengalaman makan pizza di tanah air juga terpaksa harus menyesuaikan diri. Begitu juga dengan kopi yang hanya diambil busanya saja dan disajikan dalam gelas super mini. Tapi yang tak mungkin dilupakan adalah pengalaman ketika saya kehausan sehabis makan pizza. Pada pelayan pizzeria saya memesan sebotol aqua yang juga banyak dijual di sini, tapi si pelayan malah menyodorkan segelas air putih yang diambil langsung dari kran ledeng. Saya kaget meskipun diminum juga akhirnya. Belakangan saya tahu bahwa yang namanya aqua itu air biasa, termasuk air ledeng dan memang bisa untuk diminum. Sedang aqua yang saya maksudkan namanya aqua minerale.

Akhirnya, kawah raksasa penuh sejarah saya tinggalkan tanpa sempat kecopetan. Di kereta api yang nyaman menuju Perugia, saya menulis sebait puisi: Betapa jujur pengakuan zaman/Ketika kejayaan harus runtuh dan kenangan/Tinggal puing. Tapi masih ada yang berarti/Seperti Colosseo atau Foro Romano/Yang mungkin masih akan kita kunjungi/Untuk sekedar berpotret…

(1992)
Prev Next Next