Jurnal 06

DI ATAS JEMBATAN AMPERA
 
Acep Zamzam Noor


INDONESIA International Poetry Festival 2006 yang berlangsung di Palembang beberapa waktu yang lalu, selain menghadirkan para penyair terkemuka dari sejumlah negara, juga menghadirkan seniman-seniman lokal yang menampilkan sastra tutur. Di wilayah Sumatera Selatan (termasuk Lampung dan Bengkulu) tradisi sastra tutur atau yang lebih kita kenal dengan sebutan sastra lisan terdapat hampir di setiap kabupaten, meskipun yang masih benar-benar hidup hanya tinggal di beberapa tempat saja. Penampilan sastra tutur di arena festival menjadi menarik karena bahasa lokal yang digunakan bersanding dengan bahasa-bahasa internasional seperti Finlandia, Rumania, Italia, Belanda, Jerman, Arab, Turki, Cina, Inggris, yang tentu saja bagi pendengaran saya sama-sama asingnya.

Di panggung setiap penyair yang tampil membawakan puisi dalam bahasanya masing-masing. Mendengarkan puisi-puisi asing yang mereka bacakan, bagi sebagian besar penonton mungkin sama halnya dengan mendengarkan dukun atau paranormal membacakan mantera. Memang untuk puisi-puisi mereka dibacakan juga terjemahannya dalam bahasa Indonesia, namun yang menarik dari festival semacam ini justru ketika mendengar bahasa asli dituturkan langsung penyairnya. Seperti halnya mendengar mantera kita bisa menikmati apa yang mereka bacakan meskipun tidak selalu dimengerti apa maknanya.

Mendengar puisi-puisi Anni Sumari (Finlandia), Peter Zilahy (Rumania), Martin Jankowski (Jerman) atau Tseud Bruinja (yang menulis dalam bahasa Frisian, salah satu bahasa lokal di Belanda) rasanya seperti mendengar Pantun Beton, salah satu jenis sastra tutur yang menggunakan bahasa Sunda klasik. Begitu juga ketika Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi (Mesir) membacakan puisi-puisinya, saya seperti mendengar seorang ustadz berdoa, dengan kemerduan bunyi bahasa Arab yang luar biasa. Atau ketika Duoduo tampil, penyair pelarian asal Cina itu seperti sedang membacakan narasi dalam sebuah film kungfu yang dibintangi Jacky Chen atau Jet Lee. Ya, begitulah karakter puisi. Kekuatannya bukan hanya terdapat pada makna, namun juga bunyi atau irama kata-katanya itu sendiri.

Festival para penyair ini dilaksanakan di beberapa tempat seputar kota Palembang. Resepsi pembukaan bertempat di kediaman resmi Gubernus Sumatera Selatan, lalu rangkaian acara digelar siang hari di Graha Budaya Jakabaring, yang merupakan pusat kegiatan kesenian kota Palembang, sedang malam harinya acara dikemas lebih santai sambil makan malam di atas kapal pesiar yang ulak-alik menyusuri sungai Musi. Adapun penutupannya dilangsungkan dalam sebuah pesta yang meriah di pinggir kolam renang Novotel, hotel bintang empat yang berarsitektur post-modern.

Ahmad Bastari Suan, seorang penutur tradisional dari Lahat, membuka festival ini dengan membawakan Guritan dan Tadut, dua jenis sastra tutur dalam bahasa Basemah. Bastari Suan bersenandung dengan suara baritonnya yang berat. Ia duduk sambil menundukkan kepala dengan dagu yang disangga sebilah bambu. Entah apa fungsi yang sebenarnya dari bambu ini, apakah semacam alat bantu untuk memperkeras suara atau hanya penyangga dagu agar tidak pegal jika menunduk dalam waktu yang cukup lama. Tak banyak gerak yang dilakukan oleh seniman ini selain tangan yang kadang membuka lembaran naskah atau membetulkan posisi bambu.

Bagi yang tidak mengerti bahasa Basemah, menikmati Guritan dan Tadut ini seperti halnya mendengarkan puisi-puisi Finlandia, Rumania, Jerman, Belanda atau Cina. Cerita apa di balik syair yang Bastari Suan senandungkan, jelas saya tidak mengerti. Namun ketika saya tanyakan kepada T. Wijaya, seorang penyair Palembang, menurutnya syair tersebut bercerita tentang kepahlawanan. Namun ia sendiri tidak paham betul karena Basemah adalah salah satu bahasa lokal yang terdapat di Sumatera Selatan. “Di sekitar Palembang banyak sekali bahasa yang tidak semuanya saya dipahami, memang mirip dengan bahasa Palembang namun sebenarnya merupakan bahasa tersendiri,” katanya sambil menjelaskan bahwa bahasa atau budaya yang berbeda-beda itu hampir semuanya berkaitan dengan sungai Musi, baik langsung maupun tidak. Dengan kata lain bahasa dan budaya yang berbeda-beda itu seperti disatukan oleh aliran sungai Musi, yang merupakan sumber utama kehidupan mereka.

Palembang terkenal dengan kain songketnya yang indah, yakni tenunan tradisional yang biasa dikerjakan oleh kaum perempuan sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Palembang juga terkenal dengan sastra tuturnya yang sangat kaya, mulai dari cerita rakyat sampai syair-syair yang berkisah tentang perang atau kepahlawanan. Syair-syair patriotik ini biasanya dituturkan oleh kalangan bangsawan. Selain itu, Palembang juga dikenal dengan sungai-sungainya yang lebar dan panjang. Kota yang bersejarah ini konon dialiri oleh sembilan sungai yang semuanya bermuara ke sungai Musi. Sembilan sungai ini melambangkan beragam suku dan bahasa yang terdapat di wilayah Palembang dan sekitarnya, yang dikenal sebagai Batanghari Sembilan.

Tiga ikon Palembang ini, yakni syair, songket dan sungai, diangkat oleh Lingkar Studi Teater Palembang (LSTP) menjadi sebuah pagelaran sastra tutur kreasi baru dengan judul Tenunan Syair Batanghari Sembilan. Tidak seperti Bastari Suan yang membawakannya secara tradisional, LSTP memadukan banyak unsur menjadi sebuah kolaborasi sastra tutur yang cukup menghibur. Syair yang menjadi materi pagelaran bukan hanya dituturkan atau disenandungkan, namun pada bagian-bagian tertentu juga dibawakan secara teatrikal. Jika Bastari Suan hanya bertutur sendirian tanpa pengiring, LSTP membawakannya dalam sebuah ensambel. Ada gitar, ada bass, ada jimbe dan terebang. Tentu saja ada juga alat-alat tradisional dari bambu semacam celempung. Selain itu tampil pula seorang perempuan tua yang sedang menenun songket. Perempuan ini bukan hanya dipajang sebagai hiasan, namun bagian penting dari pegelaran. Bunyi-bunyian yang dikeluarkan dari alat tenunnya menjadikan musik mereka lebih kaya. Pagelaran semakin meriah karena di samping para pemain yang memakai pakaian tradisional dari songket, setting panggungnya pun menggunakan lembaran-lembaran kain songket yang gemerlapan.

“Songket tidak hanya terdapat di Palembang tapi juga di Medan, Padang, Jambi dan Lampung. Songket itu milik kebudayaan Melayu, jadi terdapat juga di beberapa tempat di Malaysia. Hanya songket Palembang memang lebih dikenal orang, mungkin karena kehalusannya atau entah karena apanya,” kata Anwar Putera Bayu, penyair Palembang yang lain. Di Palembang kerajinan songket ini masih hidup dan berkembang, sejumlah pengrajin bahkan mencoba mengangkatnya menjadi kain yang bergengsi dan mahal. Anna Kumari misalnya, dengan kreatif memadukan motif-motif songket dengan tenun ikat, tenun tajung (seperti tenunan untuk kain sarung), batik jumputan dan batik prada sehingga menghasilkan corak dan warna yang indah. Fungsinya pun bukan hanya untuk pakaian tradisional, tapi untuk keperluan-keperluan yang lebih luas seperti jas, kemeja, gaun wanita, busana muslim bahkan jilbab. “Songket juga cocok untuk gordin jendela, sprei, taplak meja, tas tangan, kipas, bantal, hiasan dinding atau dekorasi panggung seperti ini,” ujar seorang pegawainya dengan bangga.

Pagelaran LSTP pada penutupan festival puisi internasional ini membawakan salah satu bagian dari Syair Perang Menteng yang sangat panjang. “Pagelaran ini mencoba mengangkat 22 bait bagian awal. Secara keseluruhan syair ini berisi 260 bait yang menceritakan peperangan antara Kesultanan Palembang Darussalam melawan penjajah Belanda”, kata Vebri Al-Litani yang menjadi salah seorang penutur dari kelompok ini. Menteng berasal dari kebiasaan orang-orang Palembang ketika mengucapkan nama Mutinghe, seorang komisaris yang diangkat pemerintahan kolonial untuk memimpin wilayah Palembang dan Bangka pada tahun 1817. Jadi kata Menteng diambil dari nama seorang komisaris Belanda.

Syair Perang Menteng sendiri ditulis sekitar tahun 1819-1821, ketika peperangan tengah berlangsung. Syair ini menceritakan bagaimana peperangan dimulai, yakni sewaktu Belanda dan Ambon yang dipimpin Ideler Mutinghe alias Menteng bersama-sama menyerang Palembang. Namun rakyat Palembang yang dipimpin oleh Haji Zein bahu membahu mepertahankan diri sekuat tenaga. Dalam syair ini diceritakan pula bagaimana kegigihan rakyat Palembang yang berjuang tanpa rasa takut mampu mengatasi pasukan musuh meskipun Haji Zein, sang komandan, harus gugur sebagai syuhada.

Vebri Al-Litani juga menjelaskan, bahwa dalam pagelarannya kali ini ditampilkan berbagai gaya bertutur dari tradisi-tradisi yang ada di Sumatera Selatan, seperti Bekisoh yang merupakan gaya bertutur untuk kalangan bangsawan, Guritan dan Tadut gaya bertutur dari Basemah, Senjang gaya bertutur dari Sekayu serta Irama Batanghari Sembilan, sejenis pantun yang biasa dinyanyikan dengan iringan gitar tunggal. “Kami mencoba menampilkan kekayaan tradisi yang dimiliki Sumatera Selatan dalam sebuah paket pagelaran, tentu dengan berupaya menemukan pengucapan baru,” katanya seusai pertunjukan.

Bagi saya sendiri, yang menjadi salah seorang peserta dalam festival ini, pagelaran Tenunan Syair Batanghari Sembilan dari seniman-seniman muda Palembang merupakan terobosan yang layak dicatat, khususnya dalam upaya mengangkat berbagai kekayaan budaya lokal. Sebuah terobosan yang memberikan semacam aksentuasi bagi sebuah festival puisi internasional yang berlangsung di daerahnya. Yang mereka pagelarkan bukan sekedar sastra tutur, musik dengan alat-alat tradisional atau kain songket dengan beragam corak yang membalut pementasan, namun semacam instalasi yang menenun unsur-unsur dari kekayaan budaya yang mereka miliki, semacam bunga rampai yang merajut tradisi-tradisi yang masih tersisa.

***

Di atas jembatan Ampera, tiba-tiba saya teringat Tasikmalaya. Saya teringat Babakan Payung, di mana payung geulis dulu banyak dibuat di situ. Saya teringat Gobras, yang pernah menjadi sentra pembuatan kelom dan mebel. Saya teringat Rajapolah, yang memproduksi kerajinan kayu, bambu dan rotan. Saya teringat Purbaratu, Cibeureum dan Tamansari, yang masyarakatnya mempunyai keterampilan membuat tikar dari mendong. Saya juga teringat Cipedes, Cigeureung dan Urug yang motif-motif batik tulisnya sangat impresif, dengan warna-warna alamnya yang khas. Saya teringat Tanjung, yang kerajinan bordilnya terkenal sampai ke mancanegara.

Saya teringat Calung Tarawangsa dari Cibalong, Pantun Beton dari Karangresik dan Sukaraja. Saya teringat Terbang Gebes, Terbang Sejak, Beluk serta Debus dari Cirangkong. Saya teringat Angklung Sered dari Singaparna, Bangreng dari Cigalontang, Angklung Badud dari Parakan Honje, Angklung Buncis dari Awipari. Saya teringat Bangkolung dari Cieunteung, Cigawiran dari Ciawi, Karinding dari Cineam. Saya teringat Ebleg dari Manonjaya, Rudat dari Cikupa dan Mangkubumi. Lais dari Tanjung Jaya, Puspahiang dan Karangnunggal. Saya juga teringat Barongsay dari warga Tionghoa yang sudah lama tidak pernah ditampilkan.

Saya membayangkan sebuah pementasan kolosal, yang menganyam semua kekayaan budaya yang ada di tatar Sukapura. Saya membayangkan Kang Wahyu, Kang Juha, Mang Ipin dan Abah Darya turun gunung, lalu bersama seniman-seniman mutakhir seperti Acong, Amang, Pahat, Cupit, Bode, Azim, Jabo, Andri, Agus, Ahmad dan Dede Rokhyan menggarap semacam Gending Keresmen model baru di alun-alun. Ceritanya bisa apa saja, misalnya tentang bagaimana menjaga kampung halaman dan lingkungan alam. Saya yakin penyair Nazarudin Azhar, Saeful Badar, Irvan Mulyadie atau Lintang Ismaya bisa menulis naskah tentang masalah tersebut. Saya bayangkan juga dinas-dinas seperti Disbudpar, Disdik, Disperindag, Kesbang bahkan MUI akan mendukung gagasan ini, tanpa mempersoalkan teritotorial kabupaten dan kota. Bukankah wilayah kebudayaan dan kesenian tidak bisa dipilah-pilah hanya berdasarkan administrasi atau birokrasi pemerintahan saja? Tasikmalaya tetap satu, dan kebudayaan adalah rahmatan lil alamain.
 
Di atas jembatan Ampera, di atas sungai Musi yang membelah kota Palembang, saya benar-benar teringat Tasikmalaya. Saya teringat sungai Cimulu yang kotor airnya []
Prev Next Next