Jurnal 5

BAHASA, IDENTITAS, AKAR TRADISI

Acep Zamzam Noor


KONPERENSI dan workshop sastrawan dari negara-negara anggota ASEAN yang berlangsung belum lama ini di Manila, Filipina, merupakan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya berlangsung di Pulau Penang, Malaysia. Menurut rencana kegiatan sastra yang cukup penting ini akan berlangsung setiap tahun secara bergilir di setiap negara anggota ASEAN, tentu saja dengan topik yang berbeda-beda. Topik yang diperbincangkan dalam workshop kali ini adalah puisi dengan segala permasalahannya. Secara umum setiap delegasi menyampaikan country paper, yang membicarakan kondisi kepenyairan di negara masing-masing dalam hubungannya dengan kondisi sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Juga kecenderungan-kecenderungan baru dari para penyair muda. Sedangkan yang menjadi titik berat dari acara ini adalah perbincangan mengenai proses kreatif dan karya puisi dari para peserta itu sendiri. Sebagai pengantar setiap peserta diharuskan menyampaikan makalah dengan tema Community Through Poetry.

Dalam workshop kali ini, Indonesia diwakili oleh penyair Agus R. Sarjono, Abidah El-Khaliqi dan Acep Zamzam Noor, sedangkan Taufiq Ismail bertindak sebagai fasilitator sekaligus ketua delegasi. Meski tak ditegaskan sebagai forum penyair muda (hanya ada pembatasan usia di bawah 40 tahun), kebanyakan peserta workshop ini adalah penyair-penyair muda. Maka sudah bisa ditebak bahwa setiap peserta datang ke forum ini dengan membawa kegelisahan masing-masing. Kegelisahan dari penyair-penyair muda Singapura dan Filipina yang punya masalah dengan identitas nasional dan akar tradisi, jelas sangat berbeda dengan kegelisahan penyair-penyair yang bahasanya berasal dari rumpun Melayu semacam Malaysia, Brunei atau Indonesia, yang sudah mempunyai akar tradisi yang sangat kuat dan tak punya masalah dengan bahasa nasional.

Sayangnya tak semua peserta workshop ini diwakili oleh penyair, sebab ada juga peserta yang baru menulis beberapa buah puisi saja. Misalnya peserta dari Thailand yang kebetulan hanya diwakili oleh dua orang (ditambah fasilitator), nampaknya mereka dikirim lebih karena kemampuan berbahasa Inggris-nya ketimbang kualitas kepenyairannya. Maka gambaran dari kondisi kepenyairan, khususnya para penyair muda, di negeri itu menjadi kurang terungkap dengan jelas, sekalipun secara umum kita ketahui bahwa negeri kerajaan yang tak pernah dijajah Barat itu mempunyai tradisi yang sangat kuat.

Dalam pelaksanaannya, workshop dilangsungkan di Hotel Nikko Manila Garden, Metro Manila ini terdiri dari konperensi dan workshop. Country paper disampaikan secara pleno oleh setiap ketua delegasi, sedangkan workshop itu sendiri dilakukan secara kelompok dengan membagi seluruh peserta menjadi tiga grup. Waktu yang disediakan untuk workshop ini jauh lebih leluasa ketimbang konperensi, yakni dalam sembilan sesi. Selain itu workshop berlangsung lebih santai, akrab dan tetap dalam batas-batas keseriusan. Setiap puisi dari masing-masing peserta dibahas secara panjang lebar dan mendalam, begitu juga konsep dan proses kreatif dari puisi-puisi tersebut.

Memang harus diakui bahwa bahasa Inggris yang menjadi bahasa resmi dalam workshop ini menjadi kendala, terutama tidak meratanya kemampuan masing-masing peserta. Tapi kendala ini tidak menjadi terlalu serius karena peranan fasilitator yang sekaligus juga penterjemah. Taufiq Ismail misalnya, bukan hanya membantu penyair Indonesia dalam mengemukakan pikiran-pikirannya, tapi juga para penyair dari Brunei dan Malaysia yang kebetulan bahasa Inggrisnya tak selancar penyair-penyair dari Singapura atau Filipina. Tidak meratanya kemampuan berbahasa Inggris nampaknya tidak mengurangi arti penting dari workshop yang menarik ini, karena bagaimanapun forum ini adalah pertemuan penyair dan bukan pertemuan guru-guru bahasa Inggris.

Selain sesi-sesi formal yang terjadwal, yang juga cukup menarik bagi kami terutama pertemuan-pertemuan di luar jadwal resmi. Hampir tiap malam kami peserta dari Indonesia mengadakan pertemuan dengan tiap-tiap delegasi, secara bergiliran. Misalnya malam pertama dengan Malaysia, lalu Singapura, Filipina dan seterusnya. Banyak informasi tambahan yang cukup penting justru muncul dari obrolan santai semacam ini. Karena bentuknya yang tidak formal dan akrab, maka obrolan-obrolan kami pun menjadi terasa ringan tanpa beban harus berbahasa Inggris yang baik dan benar. Selain itu, acara “begadang” yang kadang dilakukan di kamar, di kafe atau di taman sekitar Makati ini merangsang kami untuk melahirkan beberapa puisi.

***

Dalam sejumlah hal penyair-penyair Malaysia dan Brunei mungkin bisa dikatakan lebih beruntung jika dibanding penyair-penyair dari negara ASEAN lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan Indonesia. Perhatian dan sumbangan pemerintah kedua negara Melayu ini terhadap perkembangan kesusastraan sangat besar. Bukan saja penerbitan karya-karya sastra yang dilakukan penerbit milik negara dengan oplah yang cukup besar dan desain yang mewah, tapi juga setiap penyair yang berprestasi mempunyai hak untuk mendapatkan jaminan kesejahteraan, kesehatan dan bahkan pensiun bagi yang terpilih menjadi sastrawan negara. Dengan demikian profesi sasatrawan di Malaysia dan Brunei cukup terhormat di tengah masyarakat. Dewan Sastra dan Bahasa yang merupakan badan penerbitan milik pemerintah, bukan saja hanya memberikan tempat bagi penyair-penyair senior yang sudah punya nama, tapi juga sangat memperhatikan penyair-penyair muda dengan menerbitkan karya-karyanya.

Apakah fasilitas dan kemudahan yang diberikan pemerintah terhadap para sastrawan mampu memacu kreativitas mereka? Marsli N.O., salah seorang peserta dari Malaysia justru agak meragukan hal ini. Menurutnya, puisi-puisi karya penyair mutakhir Malaysia masih belum bisa beranjak dari tradisi yang telah diciptakan oleh para pendahulunya. Karena para pendahulunya seperti Usman Awang, Muhammad Haji Saleh, Kemala dan lain-lainnya masih sangat terikat pada bentuk-bentuk sastra lama semacam pantun, maka eksplorasi-eksplorasi yang berani terhadap bahasa Melayu agak sulit ditemukan pada karya-karya penyair mudanya. Tentu saja eksperimen-eksperimen itu bukannya tak pernah dilakukan, namun belum mendapat tempat yang baik di mata kritikus atau penyair senior. Untuk urusan eksperimen, secara tulus mereka mengakui bahwa penyair-penyair Indonesia termasuk yang mudanya dinilai sangat kreatif, berani dan berhasil. Bukan hanya dalam bentuk, tapi juga dalam isi. Marsli kemudian menunjuk puisi-puisi sufistik dari para penyair Indonesia yang idiom-idiomnya dinilai sangat berani.

Penyair-penyair Malaysia ternyata bukan hanya mengenal nama-nama besar macam Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Taufiq Ismail, Sutardji atau Sapardi Djoko Damono, tapi mereka juga sangat mengenal nama-nama seperti Hamid Jabbar, Slamet Sukirnanto, D. Zawawi Imron, bahkan Diah Hadaining dan Soni Farid Maulana. Rupanya sajak-sajak penyair Indonesia yang disebut belakangan ini banyak juga dibicarakan di sana. Menurut Rahimidin Zahari, peserta lain dari Malaysia, banyak penyair-penyair muda Malaysia yang justru belajar dari penyair-penyair Indonesia. Ia menilai sedikitnya campur tangan pemerintah dalam memajukan perkembangan kesusastraan, justru membuat para sastrawannya mandiri dan berkesusastraan menjadi kegiatan yang individual. Dengan demikian penyair-penyair Indonesia lebih mempunyai kebebasan dalam bereksperimen, dan tidak terikat dengan selera penerbit seperti halnya dengan Dewan Bahasa dan Pustaka di Malaysia. Rupanya dia juga tahu bahwa kebanyakan penyair-penyair muda Indonesia menerbitkan bukunya dengan biaya sendiri.

Memang, dilihat dari puisi-puisinya, pencapaian-pencapaian estetik dari para utusan Malaysia dan Brunei ini tidaklah mengagetkan – untuk tidak disebut terlampau sederhana. Bahasa Melayu masih diperlakukan dengan formal dan setia, yang mengingatkan kita pada sajak-sajak zaman Pujangga Baru, di mana unsur pantun masih sangat dominan. Hal ini nampak jelas pada puisi Rahimidin Zahari, Inzura Kosnin dari Malaysia atau seluruh peserta dari Brunai. Sedangkan Marsli N.O. yang merupakan penyair dan cerpenis muda yang cukup kreatif dan produktif di Malaysia yang buku-bukunya banyak diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka, memang agak lain meskipun tak beranjak terlalu jauh dari gaya kawan-kawannya. Sebuah puisinya yang berjudul “Tamsil” kita kutip di sini:

benih yang berdikit-dikit
menghulurkan susur
tidak pernah berkisah tentang payah

batu yang bertahun diterjah ombak
tidak sekali melemparkan jerit

bukit tidak akan runtuh
karana salakan anjing

dan karana cemburukan bayang,
tulang yang telah digonggong
untuk apa kaulepaskan?

Sebagai perbandingan kita kutip puisi dari Shaharah Haji Abdul Wahab penyair Brunei yang juga redaktur majalah sastra Bahana. Puisinya ini berjudul “Salat”:

Randuk berdiri
sujud mengabdi
bersih suci
jasad dan hati
sembah Ilahi

Kedua sajak dari Malaysia dan Brunei ini mungkin menjadi terasa sangat konvensional jika dibandingkan dengan puisi dari penyair kita Agus R. Sarjono misalnya, yang idiom-idiomnya banyak dipungut dari kehidupan sehari-hari. Kita kutip penggalan dari puisi yang berjudul “Delirium”:

Aku sakit, keluh Puskesmas dalam gigil
di balik selimut. Tapi tak ada dokter
di sini, ucap daftar tamu.

Minum saja bodrek, aspirin, obat cacing
inza, valium, BK, megadon…
mereka ada di mana-mana

Aku ingin berobat, erang Puskesmas gugup
dan cemas. Tapi tak ada dokter
di sini, ucap daftar tamu.

***

Bagi penyair-penyair dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Indonesia yang memiliki bahasa nasional yang sudah mengakar di masyarakat dan menjadi identitas nasional, maka persoalan dengan bahasa apakah harus berekspresi bukanlah masalah yang terlalu serius. Tapi bagi penyair-penyair Singapura dan Filipina hal ini sangat menggelisahkan, terutama dalam hubungannya dengan identitas nasional mereka.

Dalam workshop kali ini Singapura diwakili penyair-penyair yang menulis dalam bahasa yang berbeda-beda. Simon Tay dan Lau Wai Mun menulis dalam bahasa Inggris, sementara Teo Sum Lim menulis dalam bahasa Cina dan Abdul Samad Salimin dalam bahasa Melayu. Namun penyair dari etnis Tamil tak terwakili di sini, dan ini sangat disayangkan. Di Singapura keempat bahasa ini memang diakui secara resmi, meskipun yang nampak dominan adalah bahasa Inggris. Bagi yang berbahasa Inggris jelas kiblat mereka adalah kesusastraan Barat, dan mereka memiliki pembaca yang lebih banyak dibanding penyair-penyair yang menulis dalam bahasa Melayu, Cina dan Tamil. Kesusastraan mereka menjadi terkotak-kotak dalam komunitas-komunitas kecil. Penyair-penyair Melayu dan Tamil yang minoritas mempublikasikan puisi-puisi mereka hanya di koran-koran yang beroplah kecil. Tapi bagi penyair-penyair Melayu semacam Abdul Samad Salimin masih terbuka kemungkinan untuk menulis di mass-media terbitan Malaysia.

Kepenyairan di Singapura sepertinya berjalan sendiri-sendiri dengan bahasa dan komunitasnya masing-masing. Simon Tay dan Lau Wai Mun mungkin merasa leluasa dengan memakai bahasa Inggris tanpa mempersoalkan akar tradisi dan bahasa ibu. Puisi-puisi mereka pun banyak mengungkapkan hal-hal yang universal dengan cara ungkap khas Barat. Misalnya Simon, dalam salah satu puisinya ia berbicara tentang Sita namun dalam cara pandang yang universal. Jika Simon ungkapannya cenderung terang dengan gaya memotret, sedang Lau Wai Mun nampak banyak bermain-main dengan imaji dan simbol. Jika bagi mereka menulis dalam bahasa internasional yang memang menjadi bahasa yang dominan di Singapura nampaknya sebagai pilihan yang tepat, ternyata tidak demikian bagi Teo Sum Lim. Penyair keturunan Cina seperti halnya Simon dan Lau tadi, Teo merasa lebih dekat dengan bahasa dan tradisi leluhurnya yang dikenal amat tua itu. Maka ia pun menulis dalam bahasa Cina, dan tentu saja ungkapannya pun sangat berbau Timur meski tetap dalam semangat masa kini. Teo banyak mengambil tema-tema binatang dan lingkungan hidup. Sedangkan Abdul Samad Salimin, seperti halnya penyair-penyair Melayu dari Malaysia dan Brunei, puisi-puisinya masih berbau pantun dengan cara pandang yang khas Melayu.

Yang cukup menarik bagi saya ternyata semangat penyair-penyair Filipina yang kebetulan diwakili oleh orang-orang muda. Mereka berasal dari kelompok-kelompok penyair yang belakangan ini banyak mengadakan gerakan dalam kesusastraan Filipina, yakni kelompok penyair homo dan kelompok penyair feminisme. Yang perlu dicatat dari mereka adalah semangatnya yang sangat besar untuk mencari kembali tradisi leluhur negerinya yang hilang akibat penjajahan Spanyol dan Amerika, dan salah satu gerakannya adalah dengan cara menulis dalam bahasa Tagalog serta bahasa Filipina asli lainnya. Seperti yang kita ketahui bahwa kesusastraan Filipina sangat identik dengan kesusastraan Barat, bukan hanya dalam penggunaan bahasa Inggris untuk karya-karya yang mereka tulis tapi juga lebih dari itu – kebudayaan Barat sudah benar-benar merasuk ke sanubari bangsa kepulauan itu. Filipina dikenal menjadi negara Asia yang paling kebarat-baratan, dalam semua hal.

Sebenarnya Filipina mempunyai sastrawan-sastrawan (terutama dalam bidang prosa) yang cukup dikenal di kalangan internasional, dan bahkan ada yang sudah dicalonkan untuk mendapat hadiah Nobel semacam F. Sionil Jose. Dan salah satu alasan dikenalnya karya-karya sastra Filipina di dunia luar adalah karena mereka menggunakan bahasa Inggris. Kenyataan dan situasi seperti ini berlangsung sudah sangat lama. Bahasa Inggris menjadi bahasa yang penuh gengsi, bahasa nomor satu. Sedangkan bahasa Tagalog menjadi tak lebih nasibnya seperti bahasa-bahasa daerah di Indonesia, yakni bahasa lokal dan kurang dihargai. Belakangan, kenyataan dan situasi seperti ini sangat menggelisahkan para sastrawan muda. Bukan hanya kelompok homo dan feminis saja, kelompok lain juga menolak menulis dalam bahasa Inggris dan memperjuangkan keberadaan bahasa Tagalog dalam kesusastraan negerinya.

Roberto T. Anonuevo misalnya, ia merasa tidak bangga lagi bahwa Filipina mempunyai sastrawan-sastrawan kaliber internasional semacam Sionil Jose atau Tiempo, karena di mata penyair muda yang cukup menonjol ini mereka tak lebih dari varian Barat saja, bagian dari Barat. Padahal menurut Roberto, Filipina bukanlah Barat, Filipina adalah salah satu negeri Asia yang berdaulat, mempunyai bahasa ibu dan juga tradisi. Dalam perjuangannya, penyair yang kemayu ini banyak mengadakan perjalanan ke pelosok-pelosok negerinya dan menggalang komunikasi dengan penyair-penyair daerah. Mereka juga banyak menerbitkan buku-buku puisi atas usaha sendiri dan bukan bantuan dari pemerintah. Ketika Roberto menyatakan iri terhadap negara-negara ASEAN yang mempunyai akar tradisi yang kuat dan bahasa nasional yang sangat dibanggakan seperti halnya Indonesia, tiba-tiba saya jadi teringat pergunjingan sastra belum lama ini yang cukup ramai di tanah air tentang perlunya migrasi bahasa agar lebih mendapat tempat dalam pergaulan internasional. Menurut Bobby, demikian panggilan Roberto, sebenarnya sebuah karya sastra yang besar bisa ditulis dalam bahasa apa saja. Memang benar, sejarah sudah sangat gamblang menunjukkan contohnya.

Puisi-puisi dari para penyair Filipina yang mengikuti workshop ini kebanyakan berbicara tentang masalah sosial dan terutama yang menyangkut kepentingan-kepentingan kelompok mereka. Misalnya Ralph Semino Galan, yang banyak berbicara tentang kehidupan homoseks dengan imaji-imaji yang menyerempet pornografi. Sedangkan Lina Sagaral Reyes banyak berbicara tentang hak-hak kaum wanita, di samping persoalan-persoalan sosial yang umum. Penyair wanita ini nampaknya sangat terlibat dengan persoalan-persoalan yang ditulisnya. Selain sebagai aktivis feminisme, ia pun memilih hidup bersama orang-orang miskin di dusun nelayan Villalimpia, Loay, Bohol. Di dusunnya yang jauh dari kota ini ia merasa sebagai satu-satunya orang yang menulis puisi dan yang berurusan dengan dunia sastra. Tapi di dusunnya ini pula ia merasa tinggal di Filipina yang sebenarnya. Puisi-puisi Lina bukanlah puisi ruwet dan bahkan cenderung memotret kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya. Seperti juga Roberto T. Anonuevo, Lina Sagaral Reyes pun termasuk penyair muda yang cukup menonjol di negerinya.

Kalau dilihat dari umumnya puisi-puisi mereka (tentu saja yang sudah diimigrasikan), gerakan untuk kembali mencari akar tradisi dan kembali ke bahasa ibu, nampaknya baru mencapai tahap penggunaan bahasa Tagalog saja. Puisi-puisi mereka masih seperti umumnya puisi-puisi modern yang kita kenal dan belum menampakkan muatan-muatan lokal yang khas. Semangat yang mereka kobarkan untuk mencari kembali akar tradisi masih belum sepenuhnya ditemukan – apalagi jika dibanding keberhasilan Sutardji Calzoum Bachri, yang mengangkat mantera dalam puisi-puisinya.

Sebagai penutup, saya ingin menggarisbawahi bahwa workshop semacam ini mempunyai arti yang sangat penting bagi proses kreatif seorang penyair. Bukan karena yang menjadi topik dalam workshop ini adalah proses kreatif masing-masing peserta, tapi juga untuk saling mengenal dan memahami kondisi kepenyairan di masing-masing negara. Mungkin apa yang dipandang kuno dan tidak berharga dan bahkan siap-siap untuk ditinggalkan oleh sementara penyair di suatu negara, ternyata justru sedang diburu dan diperjuangkan oleh para penyair dari negara lain. Misalnya kasus polemik panjang soal migrasi bahasa yang dianggap perlu oleh sementara penyair muda kita, ternyata sedang ramai-ramai ditinggalkan oleh para penyair Filipina yang kini kembali membanggakan bahasa nasional mereka. Dalam hal ini, sebenarnya siapa yang ketinggalan zaman? []

(1995)
Prev Next Next